Simak Fakta Mengenai Vaksin COVID-19 AstraZeneca

21 Sep 2021 | COVID-19 | Olahraga dan Gaya Hidup Sehat | Infeksi

Beberapa saat yang lalu, terdapat berita yang cukup heboh terkait adanya gangguan pembekuan darah yang jarang (Cerebral Sinus Vein Thrombosis/CSVT) pada penggunaan vaksinasi COVID-19 AstraZeneca di Eropa. Vaksin ini merupakan vaksin yang dikembangkan oleh Oxford University dan AstraZeneca. Apakah kejadian gangguan pembekuan darah tersebut berkaitan dengan vaksinasi dengan AstraZeneca?

Badan Kesehatan Inggris, United Kingdom Regulator dan The European Medicines Agency (EMA), menyimpulkan bahwa vaksin tersebut aman dan belum ada bukti bahwa vaksin tersebut menyebabkan gumpalan darah. Selain itu, berdasarkan pernyataan badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), vaksinasi dengan menggunakan vaksin AstraZeneca masih direkomendasikan karena keuntungan vaksinasi lebih besar dibandingkan risiko yang ada.

Seperti yang telah kita ketahui, bahwa pembagian vaksin COVID-19 untuk tiap negara memiliki jumlah tertentu, dan untuk mencapai herd immunity dibutuhkan kombinasi beberapa jenis vaksin akibat jumlah setiap jenis vaksin yang diberikan di Indonesia terbatas.

 

 

Berikut beberapa fakta penting yang perlu kamu ketahui mengenai vaksin AstraZeneca:

 

Telah Memiliki Izin Edar Darurat dari BPOM

Di Indonesia, sejak bulan Februari 2021, BPOM telah mengeluarkan izin edar darurat vaksin COVID-19 produksi AstraZeneca. Hal ini dilakukan setelah melakukan uji klinik pada 23.745 subjek dengan interval pemberian 8-12 minggu. Pada uji klinik ini, ditemukan gejala efek samping ringan dan sedang seperti gejala lokal (nyeri, panas, merah, bengkak, gatal) dan gejala umum/sistemik (lelah, nyeri kepala, demam, nyeri sendi).

Dinyatakan "Mubah" dan "Tidak Halal" karena Menggunakan Tripsin dari Pankreas Babi

Pada tanggal 16 Maret 2021, Komisi Fatwa MUI pusat menetapkan fatwa nomor 13 tahun 2021 tentang Hukum Vaksinasi pada saat Berpuasa dan nomor 14 tahun 2021 tentang Hukum Penggunaan Vaksin COVID-19 Produksi AstraZeneca. Terkait penggunaan vaksin dengan bahan dasar dari pankreas babi ini, memang hukumnya haram menurut MUI, namun dinyatakan mubah (diperbolehkan) karena dalam kondisi darurat.

 

Memiliki Efikasi yang Baik terutama pada Usia Lanjut

Studi klinis Fase III AstraZeneca US dengan menggunakan vaksin AZD1222, menunjukkan bahwa vaksin tersebut memiliki efikasi hingga 79% dalam mencegah COVID-19 bergejala dan 100% dalam mencegah penyakit berat dan rawat inap di rumah sakit. Penelitian ini dilakukan pada 32.449 subjek. Pada subjek dengan usia 65 tahun ke atas, efikasi vaksin ini 80%.

Vaksin ini telah memenuhi persyaratan penggunaan vaksin sebagai Emergency Use Authorization (EUA) oleh WHO yaitu efikasi di atas 50%.

 

Berasal dari Virus Common Cold

Vaksin ini berasal dari modifikasi virus common cold (Adenovirus) yang berasal dari vektor simpanse (ChAdOx1) yang memiliki gen antigen struktur permukaan SARS-CoV-2 (spike protein, nCoV-19) menyerupai virus corona. Setelah vaksinasi, protein permukaan (spike protein) akan dibentuk di tubuh, sehingga memicu sistem imun untuk menyerang virus SARS-CoV-2 bila kelak menginfeksi tubuh.

Vaksin COVID-19 AstraZeneca yang saat ini terdapat di Indonesia merupakan produksi SK Bioscience Co. Ltd., Andong, Korea Selatan. Meskipun sebelumnya terdapat kontroversi mengenai penggunaan vaksin ini, namun vaksin ini masih direkomendasi untuk digunakan. Hal ini juga didukung oleh beberapa alasan sesuai fatwa MUI, dimana ada kondisi kebutuhan yang mendesak dan menduduki kondisi darurat, keterangan ahli mengenai bahaya fatal bila tidak vaksinasi segera, dan keterbatasan vaksin COVID-19 yang halal dan suci. Semoga dengan tersedianya berbagai jenis vaksin COVID-19 dan partisipasi masyarakat Indonesia, dapat terwujud kekebalan kelompok (herd immunity). Stay safe and healthy everyone!

Oleh: dr. Devina Ciayadi