Senam Vitalisasi Otak untuk Mencegah Pikun

28 Jan 2021 | Otak dan Saraf | Kesehatan Mental | Lansia

Selain dapat mencegah berbagai penyakit seperti kegemukan, kolesterol, dan penyakit jantung, latihan fisik memiliki banyak manfaat lain. Untuk menjaga kesehatan tubuh, secara umum terdapat beberapa jenis olahraga yang harus Anda lakukan rutin yaitu latihan aerobik berkelanjutan, latihan beban, resistansi atau ketahanan, dan latihan fleksibilitas atau keseimbangan.

Ternyata latihan fisik juga dapat membuat otak bugar juga. Latihan fisik sangat penting untuk menjaga aliran darah ke otak, dapat mendorong pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel otak baru. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa melakukan latihan fisik sejak dini dapat mencegah penyakit pikun pada lansia – atau disebut juga dengan demensia. Saat kita melakukan latihan fisik, ternyata otak juga akan ikut terstimulasi dengan cara mengeluarkan protein otak yang disebut Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Protein BDNF ini berperan penting menjaga sel saraf tetap bugar dan sehat termasuk menjaga fungsi memori otak.

Latihan fisik tidak hanya berarti berolahraga atau berlari. Latihan fisik juga dapat dilakukan sambil melakukan rutinitas sehari-hari seperti jalan cepat, bersih-bersih atau berkebun. Satu penelitian menemukan bahwa risiko Demensia Alzheimer dapat dikurangi dengan melakukan aktivitas fisik sehari-hari seperti memasak dan mencuci.

Pernahkah Anda mendengar tentang senam vitalisasi otak di Indonesia? Senam vitalisasi otak merupakan salah satu aktivitas fisik dengan gerakan senam untuk meningkatkan kebugaran otak yang disusun dan dikembangkan oleh dr. Adre Mayza, Sp.S dkk. Senam ini telah digunakan oleh Pusat Intelegensia Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI pada kelompok lansia di beberapa daerah di Indonesia. Senam vitalisasi otak ini berfungsi untuk mencegah demensia dan stroke.

Upaya ini akan efektif apabila dilakukan secara rutin 2-3 kali seminggu, selama 12 menit. Anda bisa menemukan banyak panduan senam vitalisasi otak di internet. Penelitian pada lansia yang melakukan senam vitalisasi otak sebanyak 2 kali/minggu selama setahun menunjukkan fungsi kognitif dan keseimbangan yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok lansia yang tidak melakukan senam vitalisasi otak. Latihan fisik ini harus dilanjutkan selama mungkin bagi penderita demensia, karena selain bermanfaat untuk menjaga kebugaran otak, juga membantu mencegah kelemahan otot, masalah mobilitas, dan masalah kesehatan lainnya. Selain itu, berolahraga juga dapat sebagai sarana untuk bersosialisasi dan membantu meningkatkan suasana hati untuk mencegah stres, yang merupakan salah satu hal yang sering dirasakan orang dengan demensia.

Tentu saja, Anda dapat selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum memulai program olahraga apa pun, terutama jika terdapat penyakit lain yang perlu dipertimbangkan.

 

Sumber:

  1. https://www.dementia.org.au/files/helpsheets/Helpsheet-DementiaQandA08-PhysicalExercise_english.pdf
  2. Turana, Y. (2013). Gambaran Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia: Stimulasi Otak pada Kelompok Lansia di Komunitas. Kementrian Kesehatan RI.
  3. https://www.depkes.go.id/article/view/17052200009/ministry-of-health-encourages-the-elderly-of-hajj-pilgrimage-to-be-healthier-.html
  4. https://www.alzheimers.org.uk/about-dementia/risk-factors-and-prevention/physical-exercise
  5. Yágüez, L., Shaw, K., Morris, R. and Matthews, D. (2010). The effects on cognitive functions of a movement-based intervention in patients with Alzheimer's type dementia: a pilot study. International Journal of Geriatric Psychiatry, 26(2), pp.173-181.
  6. Gambar: https://www.youtube.com/watch?v=Dva0W1FCJCw
Oleh: dr. Yoan Chou