Sekolah Dengan Aman di Masa Pandemi

21 Sep 2021 | COVID-19 | Kesehatan Anak

Dengan semakin meningkatnya kasus COVID-19 di Tanah Air pada tahun 2020 lalu, berdasarkan Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan COVID-19 pada Satuan Pendidikan, pada bulan Maret 2020 dilakukan penerapan sekolah melalui daring. Akibatnya, sekolah ditutup. Pandemi COVID-19 memang telah memberikan dampak dan perubahan besar pada berbagai sektor.

 

Saat ini, dengan adanya pemeriksaan dan terapi terhadap COVID-19, berbagai sektor tersebut mulai kembali pulih. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi mengadakan uji coba sekolah tatap muka pada tanggal 7 April 2021 hingga 29 April 2021 di 85 sekolah yang telah lulus pemeriksaan. Pemerintah akan menyerahkan keputusan menjalani sekolah tatap muka kepada orang tua murid, dan bila terdapat kasus positif terpapar COVID-19, maka sekolah akan ditutup 3 x 24 jam dan akan dilakukan tracing serta desinfeksi.

 

Peralihan sistem sekolah daring menjadi sekolah tatap muka telah dilaksanakan di berbagai negara (seperti Jepang, Denmark, dan negara lainnya), dengan protokol dari UNICEF (United Nations Children’s Emergency Fund). Dengan peralihan sistem ini, tentunya memberikan kekhawatiran tertentu bagi orang tua, murid, dan staf. Apa saja tips-tips yang dapat dilakukan pada saat pelaksanaan sekolah tatap muka? Yuk simak hal-hal berikut!

 

Segi Komunitas. Komunitas memegang peran penting dalam penularan COVID-19. Beberapa hal yang penting dilaksanakan dalam komunitas yaitu deteksi dini, tracing/pelacakan, karantina kontak, menjaga jarak, menjaga higienitas tangan, dan menggunakan masker. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan bila anak berangkat dan pulang sekolah dengan transportasi umum.

 

Infrastruktur. Sebelum dilaksanakan sekolah tatap muka, sebaiknya sumber daya dan kebijakan yang ada serta infrastruktur dipastikan telah memadai dalam menunjang pencegahan penularan COVID-19. Penyediaan sarana cuci tangan, bahan desinfeksi, ventilasi, tata letak kursi, dan penggunaan fasilitas umum perlu diperhatikan.

 

Individu dan Sekolah. Untuk mencegah penularan COVID-19 di dalam sekolah, perlu kerja sama berbagai pihak, mulai dari orang tua murid, murid, guru, dan seluruh staf.

Beberapa tips yang dapat dilakukan oleh orang tua yaitu:

-        Pastikan umur anak telah cukup dalam memahami dan melaksanakan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak dan menggunakan masker. Pada anak usia sangat muda, dapat mengalami kesulitan dalam menaati protokol kesehatan sehingga harus diberi perhatian lebih.

-        Anak perlu dijelaskan mengenai desinfeksi dan higienitas diri maupun lingkungan dan permukaan benda-benda. Pastikan anak telah mengetahui cara mencuci tangan dengan sabun maupun menggunakan hand sanitizer. Bila anak ingin bersin atau batuk, sebaiknya ditutup menggunakan tisu atau siku tangan dan hindari menyentuh wajah atau permukaan benda lain.

-        Memantau kesehatan anak dan pastikan anak tidak masuk sekolah bila kurang sehat. Pada anak dengan kondisi kesehatan tertentu seperti penyakit asma berat, penyakit gangguan sistem imun, gangguan autisme, dan penyakit lainnya, sebaiknya dilakukan pertimbangan khusus mengenai pelaksanaan sekolah tatap muka berdasarkan risiko yang ada.

-        Memastikan bahwa konsumsi minuman dan makanan anak dalam keadaan bersih.

-        Hindari transportasi atau layanan antar-jemput massal bagi anak sekolah.

Murid juga tentunya memegang peranan penting dalam hal ini. Beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

-        Melindungi diri dan orang sekitar dengan rajin mencuci tangan dengan sabun dan air selama minimal 20 detik, tidak menyentuh area wajah, dan tidak menggunakan alat makan atau minum bersama dengan orang lain. Selain itu, dapat menggunakan hand sanitizer dengan bahan dasar alkohol konsentrasi minimal 60%.

-        Memberi tahu orang tua, guru, atau orang sekitar bila merasa tidak sehat dan tinggal di rumah bila merasa tidak sehat.

-        Disarankan menerima vaksinasi Influenza agar dapat mengurangi risiko mengalami Influenza. Hal ini cukup penting karena gejala dan tanda Influenza dapat mirip dengan COVID-19.

-        Membawa masker cadangan ke sekolah.

-        Mencuci tangan dan langsung mandi setelah pulang dari sekolah

Bagi guru dan staf, beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

-        Memastikan telah memeroleh 2 dosis lengkap vaksinasi bila tidak terdapat kontraindikasi dalam menerima vaksin.

-        Memastikan ventilasi dan suplai aliran udara baik. Jendela sebaiknya dalam keadaan bersih dan terbuka. Bila terdapat air conditioner atau pendingin ruangan lainnya, sebaiknya secara rutin diperiksa, dirawat, dan dibersihkan.

-        Sebaiknya dilakukan screening dan perawatan pada guru serta staf. Kebijakan agar tidak datang ke sekolah bila merasa kurang sehat sebaiknya dilakukan. Bila terdapat kontak dengan kasus COVID-19, harus dilakukan screening dan  isolasi di rumah selama sekitar 14 hari.

-        Jaga jarak antar murid maupun murid dengan staf atau guru minimal 1-2 meter.

-        Menghilangkan metode belajar kelompok dan menerapkan jalur jalan satu arah. Sebaiknya dilakukan pengaturan urutan dalam masuk dan keluar kelas/gedung.

-        Memberi jarak kursi dan memastikan tidak terjadi pergeseran kursi.

-        Kurangi jumlah murid dalam 1 kelas dan hindari perpindahan ruangan kelas pada mata pelajaran tertentu.

-        Menggunakan penghalang fisik seperti kaca pembatas atau sekat antar murid maupun guru.

-        Staf melakukan desinfeksi secara rutin pada permukaan yang sering disentuh, seperti gagang pintu, keyboard, dan toilet. Desinfeksi sebaiknya dilakukan dengan larutan sodium hipoklorid 0,5% dan pastikan produk belum melalui tanggal kadaluwarsa. Produk pemutih pakaian yang dapat memberikan warna putih pada kain sebaiknya tidak digunakan.

-        Diadakan libur rutin untuk proses desinfeksi menyeluruh dan pembersihan total di lingkungan sekolah.

Beberapa kriteria yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) mengenai penggunaan masker di sekolah yaitu:

-        Anak dengan usia 5 tahun ke bawah tidak diwajibkan untuk menggunakan masker.

-        Pada anak berusia 6 hingga 11 tahun, penggunaan masker dipertimbangkan berdasarkan tingkat penularan di area tersebut, kemampuan anak dan mematuhi prosedur penggunaan masker secara tepat, dan ada tidaknya aktivitas olahraga.

-        Anak usia 12 tahun ke atas, guru, dan staf  harus menggunakan masker terutama bila tidak dapat menjaga jarak lebih dari 1-2 meter.

Nah, kira-kira setelah membaca tips-tips di atas, apakah Anda telah siap terhadap transisi sekolah daring menjadi tatap muka?

Oleh: dr. Devina Ciayadi