Perbedaan Pingsan dan Kejang

06 Aug 2020 | Otak dan Saraf

Pingsan, atau bahasa medisnya sinkop, memiliki gejala yang mirip dengan kejang. Dimana terjadi penurunan kesadaran, serta pergerakan anggota tubuh secara berulang dan diluar kendali. Namun, penyebab dan tata laksana nya tentu sangatlah berbeda. Sehingga ketika membawa pasien dengan keluhan diatas ke pelayanan kesehatan, diperlukan informasi yang benar agar dapat mengarah ke diagnosis yang tepat. Apa saja perbedaan antara pingsan dan kejang?

  1. Kelainan yang mendasari
    Pingsan disebabkan oleh penurunan aliran darah secara umum ke otak. Sedangkan kejang diakibatkan oleh kelainan aktivitas impuls saraf di dalam otak.
  2. Pencetus
    Sebagian besar kasus pingsan atau sinkop didahului oleh keadaan tertentu, seperti emosi yang tinggi, stress, berdiri lama dalam kondisi panas dan/atau ramai, olahraga, bahkan setelah buang air besar atau kecil. Sedangkan kejang bisa saja tidak memiliki kondisi pencetus apapun, namun dapat disertai oleh gejala yang sudah berlangsung beberapa hari sebelumnya seperti demam dan nyeri kepala, atau didahului oleh peristiwa cedera kepala.
  3. Posisi
    Serangan sinkop biasanya dipengaruhi posisi dan lebih sering terjadi pada posisi berdiri. Sedangkan pada kejang, serangan tidak dipengaruhi oleh posisi.
  4. Pemulihan kesadaran setelah serangan
    Apabila pasien tampak kebingungan dan tidak dapat langsung mengingat kejadian setelah kesadaran hilang, atau hilangnya kesadaran berlangsung lebih dari 5 menit, kemungkinan besar disebabkan oleh kejang dibandingkan sinkop.
  5. Pergerakan dan tonus anggota tubuh
    Pada kejang, peningkatan tonus pada tangan dan kaki lebih dominan dibandingkan pada kasus pingsan. Pergerakan tidak sadar tersebut juga dapat berlangsung lebih lama. Selain itu pada kasus kejang seringkali kepala menengok ke arah samping, dan lidah tergigit.
  6. Penampakan fisik
    Pada kasus sinkop, biasanya pasien akan terlihat pucat serta berkeringat. Saat dilakukan pengukuran tekanan darah dan nadi, akan menunjukkan hasil yang rendah
  7. Pemeriksaan lanjutan
    Apabila keluhan disebabkan oleh kejang, maka diperlukan pemeriksaan lebih jauh seperti pemeriksaan laboratorium, elektroensefalogram (EEG), CT scan atau MRI. Sedangkan apabila keluhan disebabkan oleh sinkop, pemeriksaan laboratorium dan elektrokardiogram (EKG). Namun, keduanya tetap membutuhkan observasi oleh tenaga medis profesional.

 

Sumber:

  1. Wishwa Kapoor. Syncope. 2000. New England Journal Medicine
  2. Mahinda Yogarajah. Crash Course Neurology. 2013. Elsevier
  3. Andrew McKeon, Carl Vaughan, Norman Delanty. Seizure vs syncope. 2006. Lancet Neurology.
  4. Jose Biller. Practical Neurology 3rd Edition. 2009. Lippincott Williams & Wilkins
Oleh: dr.Alifa Taqqiya