OBAT KOLESTEROL STATIN MENYEBABKAN DIABETES MELLITUS TIPE 2: FAKTA ATAU HOAX?

02 Nov 2021 | Olahraga dan Gaya Hidup Sehat | Jantung dan Pembuluh Darah | Lansia

Obat golongan statin (seperti atorvastatin, pravastatin, fluvastatin, rosuvastatin, dan simvastatin) merupakan salah satu obat yang sering digunakan di Indonesia. Obat ini menghambat secara kompetitif koenzim HMG CoA reduktase yang berperan dalam pembentukan kolesterol di hati. Peningkatan kolesterol di darah, dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan penyakit jantung dan pembuluh darah lainnya, oleh karena itu, obat ini dapat membantu dalam mengurangi angka kejadian tersebut dan menurunkan risiko kematian.

Statin memiliki efek antiinflamasi dengan mengurangi jumlah interleukin (IL) 6 dan tumor necrosis factor (TNF) α di darah. Meskipun demikian, beberapa statin seperti Atorvastatin dapat menggangu sinyal insulin di jaringan lemak dan menyebabkan terjadinya resistensi insulin yang memicu kencing manis.

Sebuah penelitian di University of Texas pada 83.022 subjek penelitian menemukan bahwa pada subjek dengan konsumsi statin, kejadian diabetes mellitus lebih tinggi (55,9%) dibandingkan kelompok kontrol (48%). Karena penelitian ini hanya menggunakan rekam medis dan bersifat tinjauan masa lampau (retrospektif), sehingga penelitian ini hanya dapat menyimpulkan adanya hubungan antara konsumsi statin dan kejadian diabetes mellitus, belum berarti terdapat adanya hubungan sebab akibat (statin menyebabkan diabetes mellitus).

Penelitian lain yang dipublikasikan di Jurnal American Heart Association menemukan bahwa pada subjek tanpa diabetes mellitus tipe 2, penggunaan atorvastatin 40 mg setiap hari selama 10 minggu meningkatkan resistensi insulin sebesar 8% dan meningkatkan sekresi insulin sebesar 9%. Dua penelitian meta analisis menemukan bahwa terapi statin meningkatkan risiko diabetes sebesar 9-12% dan pada lima penelitian berbasis populasi berkisar 18-99%.

Meskipun demikan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tetap merekomendasikan mempertimbangkan terapi statin pada pasien berusia di atas 40 tahun dengan diabetes mellitus tipe 1 dan 2 serta pada pasien berusia muda dengan kerusakan organ target atau risiko tinggi. Hal ini didukung oleh adanya berbagai uji coba klinis dan penelitian kohort berbasis populasi yang menemukan bahwa manfaat terapi statin dalam kardiovaskular lebih tinggi dibandingkan risiko terjadinya progresi menjadi diabetes mellitus tipe 2.

Untuk mengetahui hubungan lebih pasti antara kedua hal tersebut, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan subjek penelitian berjumlah besar dan dalam periode yang panjang. Oleh sebab itu, tetap konsultasikan diri Anda dengan dokter sebelum mengonsumsi obat golongan statin agar dapat diberikan terapi yang sesuai.

Oleh: dr. Devina Ciayadi