MOLNUPIRAVIR: ANTIVIRUS EFEKTIF UNTUK COVID-19?

11 Oct 2021 | COVID-19

Coronavirus disease (COVID-19) masih menjadi topik hangat hingga saat ini. Penyakit ini telah menginfeksi  lebih dari 166.000.000 dan 3.400.000 kematian di dunia hingga bulan Mei 2021. Remdesivir merupakan antivirus pertama yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) sebagai pengobatan COVID-19. Namun, pemberian obat ini dilakukan suntikan intravena sehingga penggunaanya pun masih terbatas pada pasien rawat inap.  Lalu, apakah terdapat pil antivirus oral (diminum) untuk pengobatan di rumah pada pasien COVID-19?

Molnupiravir (EIDD-2801/MK-4482) merupakan antivirus yang awalnya dikembangkan untuk terapi influenza. Antivirus ini saat ini menjadi salah satu terapi COVID-19 yang menjanjikan. Seperti Remdesivir, antivirus ini bekerja dengan menargetkan gen RNA-dependent RNA polymerase (RdRp) yang berperan dalam replikasi SARS-CoV-2 di jaringan dan menyebabkan kerusakan pada virus. Antivirus ini berbentuk pil sehingga dapat dikonsumsi di rumah pada pasien yang bukan merupakan indikasi rawat inap, sehingga dapat mengurangi kebutuhan rawat inap pada pasien COVID-19.

Penelitian pada model tikus, menemukan bahwa pengobatan dan pencegahan dengan obat ini juga dapat menurunkan replikasi beberapa virus lainnya seperti Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV), virus influenza musim, dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV).

Pada penelitian laboratorium, setelah pemberian selama dua hari, molnupiravir memiliki efek lebih dari 25.000 kali penurunan partikel infeksius pada jaringan paru bila terapi diberikan 24 jam setelah terpapar virus.

Pada penelitian tahap 2a, antivirus ini sangat baik dalam menurunkan isolasi virus secara signifikan. Antivirus ini telah menyelesaikan penelitian tahap 3 juga dengan hasil yang sangat baik. Pada awal perencanaan penelitian fase 3, akan melibatkan 1.332 subjek dewasa yang akan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok molnupiravir 800 mg dan kelompok plasebo yang dikonsumsi setiap 12 jam selama lima hari. Penelitian ini dilaksanakan pada lebih dari 170 lokasi di Amerika Serikat, Brazil, Italia, Jepang, Afrika Selatan, Taiwan, dan Guatemala.

Pada penelitian, ditemukan bahwa pengobatan molnupiravir mengurangi risiko rawat inap dan kematian sekitar 50% pada pasien COVID-19. Studi ini menyatakan bahwa hanya 7,3% pasien dengan molnupiravir dirawat inap dalam 29 hari, dibandingkan dengan plasebo sebanyak 14,1%.  Dalam periode tersebut juga tidak ditemukan kematian pada pasien dengan terapi molnupiravir, sedangkan pada plasebo ditemukan delapan kematian. Dengan hasil positif yang memuaskan tersebut, Fase 3 penelitian dihentikan lebih awal sehingga hanya melibatkan 775 pasien dengan gejala COVID-19 ringan dan sedang serta dengan minimal satu faktor risiko perburukan penyakit.

Kejadian efek samping akibat obat pada molnupiravir pun ditemukan lebih rendah dibandingkan kelompok plasebo (masing-masing 12% dan 11%). Sekitar 1,3% subjek menghentikan konsumsi obat akibat efek samping pada konsumsi molnupiravir dibandingkan plasebo (3,4%).

Obat ini akan dan akan diproduksi oleh Merck & Co Inc dan Ridgeback Biotherapeutics LP. Dengan hasil penelitian yang sangat baik tersebut, Mercks akan mengajukan penggunaan emergensi (Emergency Use Authorization/EUA) ke FDA sehingga obat tersebut dapat segera didistribusikan. Beberapa negara seperti Singapore, Australia, Korea Selatan telah bekerja sama dengan perusahaan ini untuk distribusi obat tersebut dan akan diikuti oleh Jerman, Malaysia, dan Thailand.

Dengan adanya informasi ini, tentunya merupakan kabar yang sangat baik. Namun, perlu diingat, bahwa dalam mengatasi pandemi COVID-19 saat ini, tidak hanya diperlukan pengobatan efektif terhadap penyakit, namun peran pencegahan (preventif) seperti vaksinasi menjadi kunci yang sangat penting. So, Let’s get your shot friends!

Oleh: dr. Devina Ciayadi