Menopause, Siapa Takut?

01 Apr 2021 | Olahraga dan Gaya Hidup Sehat | Kesehatan Wanita dan Ibu Hamil | Lansia

Pernahkah Anda mendengar istilah menopause? Menopause merupakan kondisi ketika seorang wanita tidak mengalami menstruasi dan tidak fertil lagi (tidak dapat hamil secara alamiah). Kondisi ini merupakan salah satu proses penuaan normal dan umumnya dialami sekitar usia 45 hingga 55 tahun. Pada saat tersebut, kadar hormon estrogen mengalami penurunan. Di Indonesia, usia rerata menopause adalah 51 tahun, sama seperti di Inggris. Pengalaman dan gejala menopause setiap orang umumnya berbeda. Untuk menghadapi masa menopause dengan baik, simaklah beberapa fakta penting yang perlu Anda ketahui.

Dikatakan telah mengalami menopause setelah 12 bulan tidak mengalami menstruasi. Menopause merupakan suatu proses gradual (bertahap). Proses ini umumnya diawali oleh perubahan pola menstruasi dan diikuti oleh beberapa gejala menopause yang dialami secara perlahan hingga mencapai puncaknya dan kemudian berkurang. Menopause dimulai oleh masa peri-menopause dimana menstruasi tidak teratur dan fertilitas mulai menurun. Setelah itu, disebut sebagai post-menopause, dimana fertilitas dan menstruasi telah selesai.

Peri-menopause bersifat gradual. Periode ini tidak terjadi secara mendadak. Pada masa ini pula terjadi perubahan pada tubuh seperti pada rambut dan kulit. Rambut umumnya akan menjadi lebih tipis dan mulai beruban. Gejala-gejala tersebut bersifat variatif, beberapa gejala umum yang terjadi, antara lain:

  • Hot flushes. Gejala ini merupakan gejala panas mendadak pada tubuh atas. Beberapa bintik merah juga umumnya timbul.
  • Sulit tidur dengan atau tanpa disertai oleh keringat pada malam hari.
  • Vagina menjadi terasa lebih kering dan sensitif akibat dinding vagina menjadi lebih kering. Hal ini dapat menyebabkan perubahan pada kehidupan seksual.
  • Stress incontinence. Pada saat bersin atau berolahraga, urine cenderung keluar tanpa disadari. Hal ini disebabkan oleh penurunan kadar hormon estrogen yang melindungi uretra dan kandung kencing.
  • Risiko osteoporosis akibat tulang yang makin keropos.
  • Otot menjadi berkurang dan lemak menjadi lebih menumpuk terutama pada bagian pinggang.
  • Perubahan mood dengan cepat akibat perubahan kadar hormon.

Untuk mengurangi gejala menopause, tersedia beberapa terapi. Terapi yang cukup populer adalah terapi pergantian hormon (hormone replacement therapy). Terapi tersebut memiliki risiko sumbatan darah, stroke, serangan jantung, dan kanker (kolon dan payudara). Sebelum terapi, perlu dilakukan konsultasi dengan dokter ahli dan evaluasi risiko dari terapi tersebut. Selain itu, terdapat beberapa terapi untuk mengatasi gejala yang dialami seperti menggunakan lubrikan vagina, konsumsi vitamin dan kalsium untuk mencegah osteoporosis, dan diet yang seimbang.

Tubuh masih memproduksi hormon. Saat menopause bukan berarti tubuh berhenti sepenuhnya memproduksi hormon. Beberapa hormon seperti estrogen dan progesteron masih diproduksi oleh tubuh, namun jumlah produksi hormon tersebut mengalami penurunan.

Saat masa peri-menopause, masih dapat terjadi kehamilan. Fertilitas tidak langsung hilang ketika tidak menstruasi. Pada masa tersebut, masih terjadi ovulasi dan masih terdapat kemungkinan kehamilan saat berhubungan seksual. Fertilitas akan hilang setelah periode menopause telah lengkap. Oleh karena itu, saat periode menstruasi tidak teratur, Anda masih disarankan untuk menggunakan kontrasepsi hingga 12 bulan setelah menstruasi terakhir. 

Nah, setelah mengetahui hal-hal tersebut, menopause bukanlah periode yang sepenuhnya menakutkan bukan? Meskipun memiliki gejala-gejala yang tidak menyenangkan, namun gejala-gejala tersebut umumnya bersifat variatif dan Anda tidak perlu ragu untuk berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh terapi untuk mengatasinya.

 

Sumber:

Oleh: dr. Devina Ciayadi