Mengenal Vaksin Karya Anak Bangsa, Vaksin Nusantara

25 Feb 2021 | COVID-19 | Infeksi | Penyakit Paru

Pengembangan vaksin COVID-19 di tengah Pandemi saat ini semakin berkembang. Tak hanya negara-negara seperti China, Amerika, Kanada, dan Inggris, tahukah Anda bahwa tanah air juga mulai mengembangkan vaksin COVID-19. Ya, vaksin yang dirancang oleh anak bangsa di tanah air disebut vaksin Merah Putih. Vaksin ini dikembangkan oleh 6 institusi yaitu: Lembaga Eijkman Bandung, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Airlangga (Unair).

Selain vaksin Merah Putih, salah satu vaksin terbaru yang dikembangkan oleh anak bangsa adalah vaksin Nusantara. Sebelumnya, vaksin ini disebut vaksin Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang). Vaksin ini diteliti oleh Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, RSUP Dr. Kariadi Semarang, PT. Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma), dan AIVITA Biomedical Inc asal Amerika Serikat. Meskipun vaksin ini baru saja menyelesaikan uji klinis tahap I, vaksin ini cukup populer mengingat vaksin ini digagas oleh mantan Menteri Kesehatan, Letnan Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K). Penetapan Tim Penelitian Uji Klinis Vaksin ini oleh Kemenkes KMK No. HK.01.07/MENKES/2646/2020. 

Pada uji klinis tahap I, pengujian dilakukan pada 27 orang relawan dalam periode 23 Desember 2020 – 6 Januari 2021. Uji klinis ini dilakukan untuk mengetahui keamanan vaksin (untuk keterangan lebih lanjut akses: https://www.isrctn.com/ISRCTN14037053). Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi pada 11 Januari 2021 dan 3 Februari 2021, uji klinis I diperoleh hasil baik, imunitas baik, dan keamanan baik (efek samping tanpa keluhan berat).

Uji klinis II masih menunggu izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan direncanakan akan dilakukan pada 180 relawan dengan tujuan menentukan efektivitas vaksin. Uji klinis III akan dilakukan pada skala lebih besar yaitu pada 1.600 relawan agar dapat menentukan pengaturan dosis vaksin.

Vaksin ini dianggap istimewa, karena basis dari vaksin ini menggunakan sel dendritik. Berikut merupakan beberapa fakta mengenai vaksin Nusantara:

  • Vaksin pertama COVID-19 di Indonesia yang menerapkan metode sel dendritik
    Sel dendritik adalah komponen sel imun dari tubuh. Penggunaan imunoterapi seperti menggunakan sel dendritik, umumnya digunakan secara tunggal atau kombinasi dengan terapi lain (kemoterapi, operasi, dan radioterapi) pada berbagai penyakit kanker. Beberapa penelitian yang telah dilakukan yaitu terhadap kanker payudara, melanoma, kanker prostat, kanker ginjal, dan kanker paru-paru (masih tahap I dan II). Oleh karena menggunakan sel dendritik, vaksin ini tidak mengandung virus yang dilemahkan. Penelitian mengenai vaksin sel dendritik terbilang masih baru dan sangat jarang dilakukan. Sebuah jurnal oleh Saadeldin dari Italia dan Kairo, menyatakan bahwa terdapat kemungkinan efek ganda vaksin sel dendritik pada populasi pasien kanker dengan mekanisme sensitisasi sel imun terhadap tumor dan virus secara bersamaan. Hal ini juga diduga dapat bermanfaat pada populasi lansia dengan imunitas yang melemah.
  • Di klaim efektif untuk segala usia dan penderita penyakit komorbid
    Vaksin ini di klaim dapat digunakan oleh berbagai populasi, termasuk populasi lansia dan dengan orang dengan komorbid. Hal ini disebabkan karena sel dendritik bersifat personal dan memiliki peran berbeda dalam membentuk kekebalan spesifik terhadap patogen. Sel dendritik juga merupakan target dari infeksi SARS-CoV-2.
  • Di klaim dapat memberikan imunitas seumur hidup hanya dengan sekali suntikan
    Beberapa jenis vaksinasi terhadap penyakit tertentu memang dapat memberikan imunitas seumur hidup atau melindungi dalam periode yang sangat panjang. Umumnya hal tersebut terjadi pada penyakit dengan patogen yang tidak mudah bermutasi, seperti pada polio, measles (campak), mumps (gondongan). Pada imunoterapi kanker, terapi sistem imun ini dapat memberikan imunitas jangka panjang dan mampu beradaptasi terhadap kondisi perubahan tumor.

Meskipun vaksin Nusantara masih menuai berbagai kontroversi karena dianggap membutuhkan biaya dan teknologi yang lebih dalam pengembangannya, vaksin ini diharapkan dapat menjadi jawaban dalam ditemukannya vaksin yang efektif dengan profil keamanan yang baik.

 

Referensi:

Oleh: dr. Devina Ciayadi