Mengenal Psikosis Postpartum

08 Jan 2021 | Kesehatan Wanita dan Ibu Hamil | Kesehatan Mental

Terdapat beberapa gangguan mood yang dapat muncul setelah melahirkan seperti baby blues syndrome, depresi post partum, dan psikosis postpartum. Psikosis postpartum merupakan gangguan paling berat apabila dibandingkan dengan kedua gangguan lainnya.

Insiden psikosis postpartum adalah sekitar 1 hingga 2 per 1000 kelahiran. Sekitar 50-60% terjadi pada wanita yang baru saja memiliki anak pertama. Sekitar 50% lainnya terjadi pada wanita yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan mood.

Gejala psikosis postpartum dapat muncul beberapa hari setelah melahirkan, rata-rata muncul dalam 2-8 minggu setelah melahirkan. Tanda-tanda yang terdapat pada ibu dengan psikosis postpartum:

  • Kebingungan dan disorientasi
  • Pikiran obsesif tentang bayi
  • Halusinasi dan delusi
  • Gangguan tidur
  • Energi dan agitasi yang berlebihan
  • Paranoid
  • Mencoba melukai diri sendiri atau bayi Anda

Awalnya ibu hanya akan mengeluh kelelahan, susah tidur, gelisah, dan sering menangis. Kemudian muncul kecurigaan yang tidak masuk akal, kebingungan, tidak menyambung saat diajak bicara, pernyataan irasional, dan kekhawatiran obsesif tentang kesehatan atau kesejahteraan bayi. Seseorang dengan psikosis postpartum mungkin memiliki kepercayaan yang aneh tentang bayinya, misalnya berpikir bahwa bayinya cacat atau merupakan titisan makhluk luar angkasa sehingga ketakutan, bahkan ingin melukai bayinya. Halusinasi dapat muncul dengan bentuk suara-suara yang menyuruhnya untuk membunuh dirinya sendiri maupun bayinya.

Psikosis postpartum dapat berbahaya, baik bagi ibu maupun bayi. Kita tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan ibu kepada dirinya sendiri atau bayinya. Apalagi terkadang ibu tidak sadar apa yang ia lakukan karena dikontrol oleh halusinasinya. Oleh karena itu, ibu yang mengalami psikosis postpartum untuk sementara harus dipisahkan dari bayinya dulu demi keamanan. Apabila ibu sangat ingin bertemu dengan bayinya, maka ibu diperbolehkan bertemu tetapi tidak dibiarkan dengan bayi berdua saja tanpa pengawasan. Psikosis postpartum membutuhkan penanganan dari psikiater secepatnya untuk konseling dan diberikan obat-obatan yang dapat mengendalikan halusinasi.

 

Sumber: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6174883/

Oleh: dr. Alfonso Haris Setia Santoso