Mengenal Kelainan Bentuk Kerucut Pada Mata

14 Nov 2020 | Kesehatan Mata

Kerato berarti kornea dan konus berarti bentuk kerucut. Keratokonus adalah penyakit progresif yang terjadi di kedua mata, bukan karena proses peradangan, yang menyebabkan penipisan lapisan kornea. Penipisan kornea dan serat-serat protein penyokong mata yang lemah menyebabkan keseluruhan lapisan melemah dan mudah terdorong ke depan sehingga membentuk kerucut. Kondisi ini sangat jarang terjadi dan biasanya terjadi pada usia remaja. Sejauh ini penyebab penyakit tersebut belum diketahui secara pasti. Faktor genetik meningkatkan risiko terjadinya kondisi tersebut. Selain itu, kebiasaan menggosok atau mengucek mata sering dihubungkan dengan keratokonus.

Keluhan yang sering dirasakan adalah gangguan penglihatan yang memberat secara progresif sehingga sering berganti kacamata atau lensa. Gangguan penglihatan dapat berupa minus dan silinder yang tinggi, bahkan dapat menyebabkan kebutaan. Keluhan lain dapat berupa pandangan buram, mata silau, dan pandangan ganda. Mata menjadi mudah luka dan terinfeksi akibat struktur yang tipis.

Keratokonus dapat ditegakkan dengan melihat mata secara langsung atau menggunakan alat bernama corneal topography. Alat tersebut dapat menilai ketebalan kornea dan bentuk kelengkungan kornea. Penanganan keratokonus bermacam-macam sesuai tingkat keparahan yang dialami. Pada tahap awal seringkali dapat diatasi dengan kacamata ataupun lensa kontak. Perkembangan penyakit bervariasi sesuai dengan progres pelemahan yang terjadi. Perubahan kondisi dapat berhenti ataupun berkembang secara cepat. Namun, jika sudah terjadi gangguan yang berat dan tidak dapat ditangani dengan kacamata ataupun lensa kontak, keratokonus perlu ditangani dengan tindakan operasi. Beberapa macam tindakan tesebut, antara lain:

  1. Modifikasi struktur kornea
  2. Implan ring
  3. Transplantasi kornea
  4. Penanaman lensa tambahan
  5. Terapi genetik

Gangguan penglihatan yang terus bertambah parah masih sering disepelekan masyarakat dan keratokonus dini memang sulit terlihat secara kasat mata. Sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter spesialis mata jika mengalami keluhan tersebut.

 

Sumber:

  1. Mohammadpour M, Heidari Z, Hashemi H. Updates on Managements for Keratoconus. J Curr Ophthalmol. 2017;30(2):110–124. Published 2017 Dec 6. doi:10.1016/j.joco.2017.11.002
  2. Espandar L, Meyer J. Keratoconus: overview and update on treatment. Middle East Afr J Ophthalmol. 2010;17(1):15–20. doi:10.4103/0974-9233.61212
Oleh: dr. Edwin Tan