Mari Deteksi Kanker Usus Besar!

11 Jun 2020 | Kanker | Hati dan Saluran Cerna | Lansia

Kanker usus besar adalah keganasan yang mengenai sel-sel usus besar. Kanker usus besar terjadi akibat perubahan pertumbuhan sel normal pada usus besar. Risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker usus besar pada seseorang yaitu peradangan usus besar berkepanjangan, kebiasan makan daging merah, makanan berlemak, berat badan berlebih, obesitas, riwayat keluarga mengalami kanker usus besar, pernah ditemukan adanya polip (benjolan bertangkai) pada usus besar, kebiasaan minum alkohol serta merokok. Adapun risiko yang mengurangi terjadinya kanker usus besar yaitu asupan tinggi serat, konsumsi obat penurun lemak darah (golongan statin), serta konsumsi makanan tinggi kalsium.

Deteksi dini untuk usus besar dilakukan mulai dari ditemukannya gejala yang mengarah usus besar serta dengan pemeriksaan tambahan. Namun, lebih disarankan melakukan deteksi sebelum bergejala.

Gejala yang ditemukan pada kanker usus besar yaitu perubahan jadwal serta ukuran kotoran saat buang air besar (BAB), BAB berdarah, perasaan tidak nyaman di perut, serta adanya benjolan yang teraba dibagian perut.

Deteksi dini diindikasikan pada orang dengan risiko sedang dan tinggi untuk terjadinya kanker usus besar. Risiko sedang yang dimaksud seperti berusia 50 tahun atau lebih, seseorang tanpa riwayat kanker usus besar,seseorang tanpa riwayat keluarga dengan kanker usus besar atau seseorang terdiagnosis mengalami kanker usus besar saat usia lebih dari 60 tahun.

Risiko tinggi yang dimaksudkan adalah riwayat peradangan usus besar berkepanjangan, memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker usus besar (ayah, atau ibu), riwayat ditemukannya polip pada usus besar atau pernah dilakukan pengangkatan usus besar akibat kanker usus besar. Secara umum,deteksi dini disarankan pada individu dengan usia lebih dari 50 tahun.

Deteksi dini yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan darah samar pada kotoran, serta pemeriksaan teropong usus. Pemeriksaan darah samar bertujuan untuk menemukan adanya perdarahan pada usus besar melalui pemeriksaan kotoran sedangkan pada teropong usus dengan memasukkan selang kamera melalui anus dengan tujuan mencari adanya lesi pada usus besar secara langsung.

Referensi

  1. Itzkowtiz SH, Potack J, Friedman LS, Brandt LJ. Sleisenger and Fortrand’s Gastrointestinal and Liver Disease. 9th ed. New York: Elsevier.2010.
  2. Kementrian Kesehatan. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Kanker Kolonrektal.2018. 

 

Oleh: dr. Irvan Cahyadi