Hipospadia, Kelainan Bawaan Lahir Saluran Kemih Pria

12 Mar 2021 | Kesehatan Anak | Ginjal dan Saluran Kemih | Kesehatan Seksual | Bedah

Aprilia Manganang, mantan pemain voli putri Tim Nasional (Timnas) Indonesia yang telah membela Indonesia sampai kepada medali perunggu Olimpiade di Myanmar dan Singapura tahun 2013, menyatakan dirinya laki-laki. Diketahui pula dirinya mengalami hipospadia. Apa itu hipospadia?

Hipospadia merupakan kelainan pada saluran kencing laki-laki, di mana lubang kencing berada pada bagian bawah batang penis (bagian ventral). Lubang kencing dapat berada sampai ke skrotum atau bahkan sampai ke bagian dekat anus. Kelainan ini merupakan kelainan bawaan dari lahir akibat gangguan pada janin usia 8-20 minggu, pada saat proses pembentukan alat kelamin. Hipospadia terjadi akibat penggabungan dua lipatan bakal saluran kencing gagal bergabung. Beberapa teori menyatakan faktor risiko terjadinya hipospadia, antara lain paparan hormon estrogen yang tinggi saat kehamilan, bayi prematur, dan bayi kembar dengan plasenta tunggal. Paparan estrogen saat kehamilan dapat terjadi saat ibu mengonsumsi banyak makanan mengandung estrogen dan mengonsumsi buah atau sayur yang mengandung pestisida.

Hipospadia dapat langsung diketahui saat bayi pertama kali lahir. Kelainan hipospadia dapat melibatkan tiga lokasi yaitu lubang kencing, kulit batang penis, dan kulit kepala penis. Beberapa kasus hipospadia yang kompleks dibutuhkan pemeriksaan tambahan seperti ultrasonografi dan endoskopi untuk melihat apakah ada kelainan kongenital lainnya, seperti kista utrikular atau utrikular yang melebar. 

Anak yang mengalami hipospadia dapat mengalami kesulitan dalam berkemih dengan berdiri, kesulitan berhubungan, dan mengalami masalah kesuburan akibat ejakulasi tidak sesuai. Hal ini dapat mengganggu kehidupan sosial dari anak di kemudian hari. Tatalaksana hipospadia adalah dengan melakukan pembedahan rekonstruksi. Rekonstruksi saluran kencing dapat dilakukan saat anak berusia 6-18 bulan, bergantung dari kompleksitas kasus. Pada kasus hipospadia ringan, yaitu lubang kencing berada pada kepala penis, umumnya tidak memiliki gejala sehingga rekonstruksi tidak harus dilakukan. Namun harus mempertimbangkan aspek psikologis anak dikemudian hari yang memiliki kelamin dengan bentuk tidak normal. 

Sekitar 70%-80% pasien pasca operasi rekonstruksi puas dengan perbaikan gejala berkemih maupun gangguan fungsi seksual. Namun, beberapa kasus masih mengalami gejala berkemih pasca rekonstruksi yang meliputi pancaran kencing tidak bersatu (spraying) dan sulit menahan buang air kecil.

 

Sumber:

Oleh: dr. Riyanti Teresa Arifin