Gangguan Elektrolit, Apa Gejalanya?

28 Dec 2020 | Otot, Tulang, dan Sendi | Otak dan Saraf | Hati dan Saluran Cerna | Jantung dan Pembuluh Darah | Ginjal dan Saluran Kemih

“Lemas banget kamu hari ini?” tanya seorang teman. “Iya nih, aku lemas sudah dari 2 hari yang lalu” jawab temannya. “Kenapa emangnya? Ada masalah?” tanya kembali. “Enggak nih, cuma 4 hari yang lalu sempat diare” jawab kembali temannya.

Diare dapat membuat lemas. Bagaimana bisa?

Lemas karena diare terjadi akibat keluarnya cairan dan elektrolit dalam jumlah berlebih. Elektrolit penting bagi tubuh untuk mengatur berbagai macam aktivitas sel saraf, otak, jantung, serta otot-otot. Bila elektrolit di dalam tubuh berkurang, maka dapat terjadi gangguan pada organ-organ tubuh. Selain jumlah elektrolit yang berkurang, elektrolit yang meningkat di dalam tubuh juga dapat menyebabkan gangguan organ. Yuk, mari kenali gangguan elektrolit yang dapat terjadi di dalam tubuh!

Elektrolit di dalam tubuh umumnya terdiri dari natrium, kalium, dan kalsium. Elektrolit-elektrolit tersebut dikendalikan jumlahnya secara ketat agar tidak menyebabkan gangguan organ-organ dalam. Setiap elektrolit yang telah disebutkan memiliki batas normal yang berbeda-beda. Kadar normal natrium berkisar antara 135-145 mEq/L, kalium berkisar antara 3,5-5 mEq/L, sedangkan kalsium berkisar antara 8,5-10,5 mg/dL.

Gejala akibat adanya penurunan jumlah natrium dapat berupa lemas, mual, muntah, dan penurunan nafsu makan. Pada kasus yang berat, dapat ditemukan adanya pembengkakan jari tangan serta koma. Gejala akibat peningkatan jumlah natrium dapat berupa rasa haus yang berlebih, mulut, dan mata terasa kering. Pada kasus yang berat, dapat ditemukan adanya kekurangan cairan (dehidrasi).

Gejala yang dapat ditemukan pada penurunan kalium contohnya penurunan detak jantung, muntah, penurunan nafsu makan, serta sembelit. Pada kasus penurunan kalium yang berat dapat menyebabkan kematian akibat perubahan irama jantung yang hebat. Gejala yang ditemukan pada peningkatan jumlah kalium yaitu adanya rasa kesemutan pada anggota gerak, serta pada kasus yang berat ditemukan peningkatan detak jantung yang dapat berakibat kematian.

Pada penurunan jumlah kalsium dapat terjadi beberapa gejala seperti otot terasa menegang, anggota gerak terasa kaku untuk digerakkan, serta dapat terjadi kejang. Sedangkan pada peningkatan jumlah kalsium, dapat juga terjadi kekakuan otot, mual, muntah, penurunan nafsu makan, serta munculnya batu ginjal yang selanjutnya dapat menimbulkan nyeri pada pinggang.

Penyebab terjadinya gangguan elektrolit beragam, dapat berupa gangguan pada ginjal, adanya kehilangan cairan tubuh yang berlebihan, gangguan kadar hormon yang mengendalikan elektrolit, adanya tumor pada otak, serta konsumsi obat-obatan seperti obat yang dapat meningkatkan produksi air seni pada pengobatan sakit ginjal atau sakit jantung (obat diuretik).

Untuk mendiagnosis gangguan keseimbangan elektrolit tubuh, diperlukan pemeriksaan kadar elektrolit dalam darah. Pada kasus tertentu guna untuk mencari penyebab yang mendasari, maka diperlukan pemeriksaan seperti CT scan kepala atau pemeriksaan hormon yang mengendalikan kadar elektrolit. Bila Anda memiliki gejala seperti yang telah dibahas, sangat disarankan berkonsultasi ke dokter untuk mendapat penanganan tepat sesuai dengan penyebab yang mendasari gangguan elektrolit.

 

Sumber:

  1. Loscalzo J, Jameson JL, Kasper DL, Longo DL, Fauci AS, Hauser SL. Harrison Principles Internal Medicine.20 ed. McGraw-Hill;2018.
  2. Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setiyohadi B, Syam AF. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed ke-6. Jilid II. Jakarta: Interna Publishing;2014.
Oleh: dr. Irvan Cahyadi