GANGGUAN DAYA INGAT DAN KONSENTRASI SETELAH TERINFEKSI COVID-19: BRAIN FOG?

18 Oct 2021 | COVID-19 | Otak dan Saraf

Manifestasi dari COVID-19 sangat bervariasi. Selain gejala pernapasan dan saluran cerna, COVID-19 dapat menyebabkan gejala jangka pendek dan panjang neuropsikiatri sertai sekuele otak jangka panjang. Beberapa hal yang sering terjadi yaitu anosmia (kehilangan penciuman sementara), gangguan cemas, depresi, kejang, bahkan defisit kognitif dan perhatian yang disebut sebagai brain fog. Fenomena ini merupakan salah satu kondisi long-COVID syndrome dimana tanda dan gejala persisten atau mulai muncul setelah fase akut COVID-19. Sebenarnya brain fog tidak hanya terjadi pada kasus long COVID-19 saja, melainkan sering terjadi pada pasien yang sedang menjalani kemoterapi kanker (chemofog atau chemobrain).

Terjadinya fenomena brain fog ini diduga akibat peran badai sitokin proinflamasi terutama Interleukin (IL-6 dan IL-1) dan TNFα yang mengganggu sawar darah otak (blood-brain-barrier) sehingga SARS-CoV-2 dapat mencapai jaringan otak.

Pada kondisi ini, long-haulers (sebutan penderita brain fog), umumnya mengalami keluhan seperti gangguan konsentrasi, insomnia, migrain, gangguan daya ingat, gangguan berpikir. Selain itu, sering juga disertai perasahan lelah dan nyeri otot.  Pemeriksaan pencitraan pada otak dapat memberikan hasil normal pada kondisi ini. Penelitian Arizona CoVHORT di Amerika Serikat pada 303 pasien rawat jalan, menemukan bahwa 30,8% pasien mengalami brain fog pada 30 hari setelah infeksi.

Beberapa hal yang dapat dilakukan di rumah yaitu:

-        Berolahraga rutin selama 30 menit sehari sekitar 3-5 hari seminggu untuk meningkatkan suplai oksigen ke otak

-        Hindari akohol dan rokok

-        Beristirahat cukup dan makan makanan bergizi seimbang

-        Melakukan aktivitas yang dapat menstimulasi kognitif atau terapi suportif kesehatan mental

-        Berpartisipasi dalam aktivitas sosial dan memiliki perilaku mental positif.

Meskipun kondisi ini dapat menganggu kualitas hidup penderita, Anda tidak perlu khawatir karena kondisi ini dapat dikurangi dengan pemberian terapi seperti obat-obatan yang menghambat sitokin, mengurangi peradangan yang terjadi, dan terapi-terapi lainnya yang akan diberikan oleh dokter setelah Anda berkonsultasi dengan dokter. Keep healthy everyone!

 

Referensi:

1.     Boldrini M, Canoll PD, Klein RS. How COVID-19 Affects the Brain. JAMA Psychiatry. 2021 Jun 1;78(6):682.

2.     https://www.health.harvard.edu/blog/what-is-covid-19-brain-fog-and-how-can-you-clear-it-2021030822076

3.     Theoharides TC, Cholevas C, Polyzoidis K, Politis A. LongCOVID syndromeassociated brain fog and chemofog: Luteolin to the rescue. BioFactors. 2021 Mar;47(2):232–41.

4.     Bell ML, Catalfamo CJ, Farland LV, Ernst KC, Jacobs ET, Klimentidis YC, et al. Post-acute sequelae of COVID-19 in a non-hospitalized cohort: Results from the Arizona CoVHORT. Ghozy S, editor. PLoS ONE. 2021 Aug 4;16(8):e0254347.

Oleh: dr. Devina Ciayadi