Fakta dan Mitos Seputar Vaksin COVID-19

17 Apr 2021 | COVID-19 | Infeksi | Penyakit Paru

Sejak masuknya virus COVID-19 ke Indonesia pada bulan Maret 2020, beredar sangat banyak informasi di masyarakat. Mulai dari penyebab, gejala, dan pengobatan penyakit tersebut. Belum lama ini, muncul berbagai informasi mengenai vaksin COVID-19 yang sedang diedarkan di Indonesia. Hal ini tentunya menimbulkan sikap pro dan kontra mengingat vaksin tersebut masih tergolong baru. Yuk, simak hal-hal berikut! Apakah termasuk fakta atau hanya mitos semata?

1. Vaksin impor dari luar negeri belum terbukti aman dan efektif → MITOS
Berdasarkan penetapan Pemerintah RI, saat ini Indonesia sedang memasuki bulan ke-10 kondisi kedaruratan pandemi COVID-19. Vaksin COVID-19 yang saat ini sedang diedarkan di Indonesia memiliki nama Coronavac dari perusahaan Sinovac dan berasal dari China. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di 3 negara, efikasi dari vaksin tersebut pada uji klinis fase III ≥ 50%, memenuhi syarat izin penggunaan darurat berdasarkan World Health Organization (WHO).
Meskipun efikasi vaksin tersebut bervariasi berdasarkan jumlah subjek, angka tersebut memenuhi kriteria WHO (91,25% di Turki, 50,4% di Brazil, dan 65,3% di Indonesia).

Vaksin tersebut juga telah memenuhi beberapa kriteria lain, yaitu:

  • Telah ditetapkannya keadaan darurat oleh pemerintah
  • Terdapat cukup bukti ilmiah untuk mendasari penggunaannya
  • Memiliki mutu yang memenuhi standar dengan cara pembuatan obat yang baik
  • Memiliki manfaat yang lebih besar dibandingkan risiko (risk-benefit analysis)

Berdasarkan penelitian di Bandung, imunogenitas (kemampuan membentuk antibodi dalam membunuh dan menetralkan virus) mencapai 99,23% dalam 3 bulan setelah penyuntikan.

2. Vaksin Coronavac terbukti halal → FAKTA

Pada tanggal 8 Januari 2021, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa halal untuk vaksin Sinovac. Menyusul fatwa tersebut, pada 11 Januari 2021, MUI menerbitkan sertifikat halal Nomor 02 Tahun 2021. Untuk membaca isi fatwa tersebut secara lengkap, Anda dapat mengakses website MUI di https://mui.or.id/berita/29425/mui-terbitkan-fatwa-covid-19-sinovac-ini-redaksi-lengkapnya/

3. Vaksin COVID-19 tidak menyembuhkan COVID-19 → FAKTA

Vaksin bukan merupakan terapi atau pengobatan terhadap penyakit. Vaksin COVID-19 diperuntukkan untuk memberikan proteksi diri dan lingkungan dalam mencegah penyakit tersebut. Vaksin juga dapat membantu mengurangi keparahan penyakit, meskipun tidak menjamin proteksi 100% terhadap penyakit tersebut. Oleh karena itu, selain melalui vaksinasi, protokol kesehatan juga tetap harus dijalankan untuk mendapatkan perlindungan maksimal.

4. Vaksin Coronavac tidak dapat diberikan pada kelompok tertentu → FAKTA
Dalam bidang medis, terdapat beberapa kelompok tertentu yang tidak dianjurkan untuk menerima pemeriksaan, pengobatan, atau vaksinasi tertentu. Hal tersebut disebut dengan kontraindikasi. Beberapa kontraindikasi vaksin Coronavac yaitu usia lebih dari 60 tahun, sedang sakit COVID, wanita menyusu dan hamil, serta kondisi medis tertentu seperti kelainan imunitas, kanker, atau hipertensi tidak terkontrol. Hal tersebut disebabkan belum adanya penelitian pada populasi khusus tersebut. Pemberian vaksinasi sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan risiko dan keuntungan yang ada.

5. Memperoleh vaksinasi COVID-19 dapat menyebabkan sakit COVID-19 → MITOS

Anggapan ini sangat sering muncul di masyarakat. Vaksin yang saat ini sedang dipasarkan, tidak mengandung virus hidup yang dapat menyebabkan penyakit. Beberapa jenis vaksin tersebut mencakup materi genetik virus, protein virus, ataupun virus yang tidak aktif. Untuk memahami lebih lanjut mengenai jenis-jenis tersebut, Anda dapat membaca artikel “Mengenal Vaksin COVID-19”.

Tujuan pemberian vaksinasi ini adalah untuk memperkenalkan sistem imun terhadap komponen virus sehingga dapat melawan virus tersebut. Centers for Disease Control and Prevention menyatakan bahwa untuk membentuk antibodi di tubuh terhadap virus membutuhkan waktu beberapa minggu dan dalam periode tersebut mungkin saja orang tersebut terinfeksi virus COVID-19, baik sesaat, sebelum, atau sesudah vaksinasi. Pada kondisi tersebut, vaksin tidak memiliki waktu untuk memberikan perlindungan sehingga orang tersebut dapat jatuh sakit.

6. Setelah disuntik vaksin COVID-19, saya akan positif saat pemeriksaan virus COVID-19 → MITOS
Hingga saat ini, penelitian-penelitian uji klinis yang telah dilaksanakan belum ada yang menyebabkan hasil positif pada pemeriksaan virus COVID-19 (PCR dan Antigen). Hasil positif pada pemeriksaan tersebut akan ditemukan bila sedang menderita infeksi virus tersebut.

7. Terdapat chip mikro atau alat pelacak di vaksin COVID-19 → MITOS
Berbagai informasi yang tersebar luas secara bebas belum tentu terbukti kebenarannya. Tidak heran dapat saja muncul informasi seperti itu. Vaksin COVID-19 yang diberikan berbentuk cairan yang disuntikkan pada otot lengan dan berisi komponen atau virus yang tidak aktif.

Vaksinasi massal di Indonesia dimulai dari kelompok prioritas tahap awal seperti tenaga medis dan petugas publik esensial. Beberapa tahap penyebaran vaksin yaitu sebagai berikut:

  • Tahap 1 (Januari 2021-April 2021) dengan sasaran tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, tenaga penunjang, serta mahasiswa pendidikan profesi kedokteran pada fasilitas pelayanan kesehatan.
  • Tahap 2 (Januari 2021-April 2021) dengan sasaran petugas pelayanan publik seperti TNI/Polri, aparat hukum, dan petugas dengan pelayanan langsung kepada masyarakat serta lansia di atas usia 60 tahun.
  • Tahap 3 (April 2021-Maret 2022) dengan sasaran masyarakat dengan risiko penularan tinggi dari aspek geospasial, sosial, dan ekonomi.
  • Tahap 4 (April 2021-Maret 2022) dengan sasaran masyarakat dan pelaku perekonomian lainnya dengan pendekatan kluster.

Setelah mengetahui fakta dan mitos-mitos tersebut, tentunya kita akan lebih bijaksana dalam membuat keputusan mengenai vaksinasi. Di era digital saat ini, ada baiknya kita membuktikan segala informasi yang diterima secara keilmuan. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter bila terdapat pertanyaan seputar penyakit dan kesehatan. Stay safe and healthy everyone!

 

Sumber:

  1. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/coronavirus/covid-19-vaccines-myth-versus-fact
  2. https://health.ucdavis.edu/coronavirus/covid-19-vaccine/covid-vaccine-myths-facts.html
  3. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/vaccines/facts.html
  4. https://www.britannica.com/list/the-top-covid-19-vaccine-myths-spreading-online
  5. https://www.medicalnewstoday.com/articles/covid-19-vaccines-what-paho-experts-want-you-to-know#Challenges-for-COVID-19-immunization
  6. https://www.pom.go.id/new/view/more/pers/584/Penerbitan-Persetujuan-Penggunaan-Dalam-Kondisi-Darurat-Atau-Emergency-Use-Authorization--EUA--Pertama-Untuk-Vaksin-COVID-19.html
  7. https://mui.or.id/berita/29438/setelah-mendapatkan-fatwa-mui-bpjph-terbitkan-sertifikat-halal-vaksin-sinovac/
  8. https://bkpp.demakkab.go.id/2021/01/direstui-bpom-mui-ini-fakta-fakta.html
  9. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/vaccines/vaccine-benefits.html
Oleh: dr. Devina Ciayadi