Dapatkah Kita Terkena Covid-19 Dua Kali? Atau Akan Membentuk Imunitas?

12 Apr 2021 | COVID-19 | Infeksi

Setelah lebih dari 100 tahun terjadinya pandemi influenza tahun 1918, saat ini kita menghadapi pandemi yang baru, covid-19. Pandemi ini telah menyebar ke seluruh benua, ke lebih dari 200 negara dengan total lebih dari 1 juta orang terinfeksi covid-19. Para ilmuwan mengatakan bahwa tidak semua orang yang terpapar covid-19 akan terinfeksi dan tidak semua orang yang terinfeksi akan menimbulkan gejala yang berat. Secara garis besar infeksi covid-19 dibagi menjadi 3 tahap yaitu: tahap 1 adalah periode inkubasi tanpa gejala; tahap 2 adalah periode gejala yang parah dengan virus yang terdeteksi; tahap 3 adalah gejala pernapasan berat. Dari sudut pandang pencegahan, individu pada tahap I adalah yang paling tidak dapat dikelola karena mereka menyebarkan virus tanpa disadari.

Hal lain yang mengkhawatirkan adalah setelah keluar dari rumah sakit, beberapa pasien kembali dengan hasil positif covid-19. Karena covid-19 merupakan virus yang baru ditemukan beberapa bulan lalu, para ilmuwan masih berusaha menjawab banyak pertanyaan besar terkait dengan virus dan penyakit yang ditimbulkannya. Salah satunya adalah apakah pasien dapat terinfeksi kembali oleh virus setelah mereka tampak pulih dari gejalanya.

Pada jenis virus corona lainnya, para ahli mengatakan antibodi yang diproduksi pasien selama terinfeksi memberikan mereka kekebalan terhadap virus tertentu selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, tetapi para peneliti masih mencari tahu apakah dan bagaimana cara kerjanya dengan covid-19.

Ada kemungkinan laporan pasien yang tampaknya telah pulih tetapi kemudian dites kembali positif bukanlah contoh infeksi ulang, tetapi kasus di mana infeksi yang menetap tidak terdeteksi oleh tes untuk suatu jangka waktu. Para ahli mengatakan respon antibodi tubuh, dipicu oleh timbulnya virus, berarti seharusnya tidak mungkin bahwa pasien yang telah pulih dari covid-19 dapat terinfeksi ulang kembali segera setelah sembuh. Antibodi biasanya diproduksi di tubuh pasien sekitar tujuh hingga 10 hari setelah serangan awal virus.

Sebaliknya, tes positif setelah pemulihan dapat juga diakibatkan karena hasil negatif palsu yang dihasilkan tes sebelumnya. Hal ini bisa terjadi karena kualitas spesimen yang diambil buruk. Selain itu, tes positif setelah pemulihan juga dapat mendeteksi sisa RNA virus yang tersisa dalam tubuh, tetapi tidak dalam jumlah yang cukup tinggi untuk menyebabkan penyakit.

Belum ada cukup waktu untuk meneliti covid-19 dalam menentukan pasien yang sudah pulih akan kebal terhadap penyakit ini, dan bilamana demikian berapa lama kekebalan itu bertahan. Namun, studi pendahuluan memberikan beberapa petunjuk. Sebagai contoh, satu studi yang dilakukan oleh para peneliti China (yang belum ditinjau oleh rekan sejawat) menemukan bahwa antibodi pada monyet rhesus membuat primata yang pulih dari COVID-19 agar tidak terinfeksi lagi setelah terpapar virus.

Peneliti memperkirakan bahwa antibodi covid-19 akan tetap dalam sistem pasien selama dua hingga tiga tahun, bila mengacu apa yang diketahui tentang virus corona jenis lain, namun perlu penelitian lebih lanjut mengenai covid-19. Tingkat kekebalan tubuh juga berbeda satu sama lain, tergantung dari kekuatan respon antibodi orang tersebut. Orang yang lebih muda, tidak ada penyakit penyulit, kemungkinan akan menghasilkan respon antibodi yang lebih baik.

Oleh: dr. Marco Ariono