Apakah Bayi Dalam Kandungan Dapat Tertular COVID-19 Dari Ibunya?

24 Jun 2020 | COVID-19 | Kesehatan Anak | Kesehatan Wanita dan Ibu Hamil

Situasi pandemi COVID-19 ini tentunya menimbulkan rasa kekhawatiran bagi banyak orang, karena sifat penyakit yang benar-benar baru ini masih dalam penelitian dan belum 100% dipahami. Tak terkecuali para ibu yang sedang mengandung. Salah satu kekhawatiran yang sering dipertanyakan oleh ibu yang mengandung adalah, bila saya tertular COVID-19, apakah bayi dalam kandungan saya dapat tertular juga?  Simak artikel berikut untuk mengetahui jawabannya!

COVID-19 menular melalui droplet atau percikan air liur yang masuk melalui saluran pernapasan atau membran mukosa (misalnya melalui mata). Secara teoritis, belum ada penemuan bahwa COVID-19 menular melalui jalur lain, misalnya hubungan tali pusat antara ibu dan anak. Hal ini dikemukakan dalam beberapa penelitian yang dilakukan di Kota Wuhan, Cina, dan beberapa provinsi lainnya di Cina terkait dengan penularan COVID-19 dari ibu ke bayi dalam kandungan. Seluruh bayi yang lahir dari ibu positif COVID-19 diperiksa dengan pemeriksaan swab sebanyak 3 kali, juga diperiksa untuk keberadaan virus dalam darah tali pusat, air susu ibu, serta cairan ketuban. Hasilnya, seluruh bayi didapatkan negatif. Karena itu, sejauh ini dapat kita simpulkan bahwa COVID-19 tidak menular melalui kandungan. Meskipun demikian, kita tidak boleh gegabah dan melonggarkan kewaspadaan, karena setelah dilahirkan, bayi dapat tertular COVID-19 melalui lingkungannya. Ibu yang positif COVID-19, bila berdekatan dengan bayinya, dapat menularkan penyakit ke bayi melalui droplet atau percikan air liur.

Jadi, apa yang harus dilakukan oleh ibu yang positif COVID-19 untuk mencegah penularan kepada bayinya yang baru lahir?

Pertama, ibu hamil harus jujur kepada petugas medis mengenai gejala dan riwayat berpergian, sehingga petugas medis dapat menyiapkan bantuan medis terbaik dan proteksi yang dibutuhkan pada saat persalinan.

Kedua, turuti saran petugas medis mengenai cara persalinan, apakah secara normal (lewat vagina) atau harus dengan operasi caesar. Teknik operasi caesar dapat meminimalisir kontak bayi dengan darah, sehingga dapat mencegah risiko penularan penyakit dari ibu kepada bayi melalui darah, meskipun belum ada penelitian yang menyebutkan bahwa operasi caesar dapat melindungi bayi 100% dari penularan COVID-19. 

Ketiga, setelah bayi lahir, tahan diri untuk tidak berkontak dengan bayi hingga sembuh total dari COVID-19. Ibu tetap dapat menyusui bayi dengan teknik ASI perah yang memperhatikan higienitas dan kebersihan saat memerah ASI.

Untuk ibu-ibu yang harus mengalami situasi melahirkan di tengah pandemi COVID-19, tetap semangat! Tetap perhatikan saran dan arahan dari dokter, diiringi dengan doa dan ketabahan. Niscaya semua dapat dilalui dengan baik. 

Oleh: dr. Stephanie