Apa itu D-dimer? Apa Hubungannya dengan COVID-19?

14 Apr 2021 | COVID-19 | Jantung dan Pembuluh Darah | Infeksi | Penyakit Paru

D-dimer akhir-akhir ini menjadi sorotan publik lantaran cerita mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, mencurahkan pengalamannya menjalani perawatan COVID-19 di blog pribadinya. Dilansir dari disway.id, Beliau menyebutkan D-dimer sebagai “cendol-cendol” yang ada di dalam pembuluh darah yang dapat saling menempel dan menyebabkan kematian pada pasien COVID-19. Lalu, apa sih sebenarnya D-dimer itu? Bagaimana hubungannya dengan infeksi COVID-19?

D-dimer merupakan suatu sisa protein tubuh yang terbentuk akibat penguraian gumpalan darah. Saat kita terluka dan berdarah, tubuh kita membentuk gumpalan darah untuk menambal pembuluh darah yang robek tersebut dan menghentikan perdarahan. Saat perdarahan berhenti, gumpalan tersebut akan diuraikan oleh tubuh. Sisa dari penguraian tersebut menghasilkan beberapa bentuk protein yang salah satunya adalah D-dimer. Sisa uraian itu akan perlahan diuraikan oleh tubuh. Pemeriksaan kadar D-dimer yang tinggi mengindikasikan kelainan penggumpalan darah yang terjadi di dalam tubuh. 

Beberapa penelitian menyatakan bahwa pasien COVID-19 yang mengalami koagulopati (kelainan pembekuan darah) memiliki kemungkinan prognosis yang lebih buruk. Hal ini dikarenakan secara perjalanan penyakit, infeksi COVID-19 tidak hanya menyebabkan peradangan paru tetapi juga membuat tubuh mengaktifkan sistem pembekuan darah. Kerusakan pembuluh darah paru dan gumpalan darah ini mengganggu aliran darah dalam paru sehingga merusak pengembangan paru dan ruang jantung -yang menyebabkan kematian pada pasien dengan gejala berat. Selain itu, risiko kejadian venous thromboembolism (VTE) -penyumbatan pembuluh darah besar vena dan disseminated intravascular coagulopathy (DIC) -perdarahan masif akibat koagulopati juga meningkat. Penelitian menunjukkan bahwa kerusakan paru terjadi sejalan dengan peningkatan D-dimer, dimana kasus dengan D-dimer yang tinggi berisiko kematian dua kali lipat dibandingkan kasus yang memiliki kadar D-dimer yang rendah. Pada pemeriksaan CT-Scan dada juga tampak penyumbatan pembuluh darah paru yang lebih berat pada pasien dengan D-dimer tinggi. 

Pemeriksaan D-dimer sebaiknya dilakukan sedini mungkin dan dimonitor secara berkala terutama untuk pasien yang memiliki penyakit tambahan/komorbid, seperti jantung, penyakit paru kronis, hipertensi, diabetes, dan gagal ginjal kronis. Hal ini bertujuan untuk memprediksi seberapa berat respons tubuh terhadap infeksi dan apakah perlu diberikan profilaksis. Pada pasien yang memiliki kadar D-dimer yang tinggi, direkomendasikan untuk diberikan antikoagulan seperti heparin sebagai pencegahan terjadinya gumpalan darah dan tersumbatnya pembuluh darah.

Meskipun begitu, D-dimer hanyalah salah satu indikator yang dapat memprediksi koagulopati dan prognosis pasien. Masih terdapat beberapa pemeriksaan dan skoring lain yang digunakan, seperti prothrombin time (PT), activated partial thromboplastin time (aPTT), fibrinogen degradation product (FDP), dan skoring SOFA (Sequential Organ Failure Assesment). Informasi mengenai koagulopati, D-dimer dan COVID-19 masih terus berkembang dan membutuhkan banyak penelitian.

 

Sumber: 

Oleh: dr. Riyanti Teresa Arifin