38 TAHUN SEJAK HIV DITEMUKAN: BAGAIMANA PERKEMBANGAN VAKSIN HIV?

18 Oct 2021 | Olahraga dan Gaya Hidup Sehat | Kesehatan Seksual | Alergi dan Penyakit Imunologik

Pada tahun 2019, tingkat populasi HIV tertinggi di dunia yaitu di benua Afrika (25,7 juta), Asia Tenggara (3,8 juta), Amerika (3,5 juta), Eropa (2,7 juta), dan Pasifik Barat (1,9 juta). Di Indonesia sendiri, pada tahun 2019, jumlah kasus HIV dan AIDS mencapai 50.282 kasus. Sekitar 27% pasien tidak memiliki akses terhadap pengobatan sehingga risiko transmisi penyakit pun meningkat.

Sejak diisolasinya virus HIV pada tahun 1984, penelitian untuk menemukan vaksin HIV telah dilaksanakan. Namun sayangnya, hingga saat ini, belum ada tim peneliti yang menemukan vaksin efektif terhadap virus ini. Penelitian vaksin HIV pertama kali dilaksanakan pada tahun 1987 oleh National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat. Hingga tahun 2003, paling tidak 35 penelitian fase 1 dilakukan, namun belum ada yang berhasil. Hal ini disebabkan mutasi glikoprotein permukaan virus secara cepat selama replikasi virus sehingga sulit bagi antibodi untuk menetralisir protein tersebut.

Dengan gagalnya penelitian yang tersebut, target vaksin pun diubah menjadi sel T. Namun, penelitian ini harus berhenti pada fase 2 karena gagal dalam memberikan perlindungan terhadap virus dan meningkatkan risiko infeksi HIV.

Salah satu vaksin yang paling menjanjikan hingga saat ini yaitu kombinasi dua vaksin (prime-boost regiments) ALVAC (vCP1521 oleh Sanofi) dan AIDSVAX B/E (Genentech gp120 oleh GSID) pada tahun 2009. Penelitian ini disebut sebagai RV144 dan merupakan kolaborasi dari pemerintahan Thailand dan US dengan melibatkan 16.402 subjek selama 2003-2006 dengan efektivitas 31,2%. Meskipun angka ini masih tergolong rendah untuk memperoleh izin penggunaan, hal ini menjadi salah satu temuan positif.

Sebuah penelitian  di Afrika Selatan yang dimulai pada tahun 2016 (dikenal sebagai HVTN 702) dinyatakan gagal sebelum waktu selesainya penelitian karena tingkat infeksi HIV pada kelompok vaksin dan plasebo tidak berbeda secara signifikan. Kegagalan ini terjadi kembali  pada bulan September 2021, NIH menyatakan bahwa salah satu kandidat vaksin gagal dalam uji coba untuk memberi proteksi HIV pada wanita.

Pada Februari 2021, IAVI dan Scripps Research menemukan vaksin yang dapat menstimulasi produksi sel B yang dapat menghasilkan broadly neutralising antibodies (bnAbs). bnAbs merupakan antibodi yang dihasilkan oleh sistem imun penjamu yang dapat menghalangi HIV pada sel target. Pada bulan Agustus 2021, Moderna Inc bekerjasama dengan IAVI dan Scripps Research melakukan uji coba pada manusia dengan vaksin mRNA-1644 serta mRNA 1644v2 dan merupakan vaksin HIV mRNA pertama yang diuji coba pada manusia.

Penelitian lain yang juga sedang dilaksanakan yaitu HIV-CORE006  yang akan menguji fase 1 vaksin HIV yang disebut HIVconsvX di Lusaka, Zambia. Vaksin ini bekerja pada sel T dan hasilnya akan dilaporkan pada akhir tahun 2022.

Meskipun proses penemuan vaksin HIV sangat panjang, namun dengan perkembangan saat ini dan dihasilkannya berbagai inovasi vaksin terbaru, diharapkan agar dapat ditemukan vaksin yang efektif terhadap HIV dalam waktu dekat.

Referensi:

1.     https://www.webmd.com/hiv-aids/news/20210902/human-trials-hiv-vaccine-created-with-mrna-technology-begins

2.     HIV Vaccine Development | NIH: National Institute of Allergy and Infectious Diseases [Internet]. [cited 2021 Oct 8]. Available from: https://www.niaid.nih.gov/diseases-conditions/hiv-vaccine-development

3.     https://www.clinicaltrialsarena.com/news/moderna-hiv-vaccine/

4.     https://www.clinicaltrialsarena.com/analysis/hunting-the-holy-grail-the-history-of-hiv-vaccine-trials/

5.     Search for HIV Vaccine Gets a Shot in the Arm [Internet]. National Institutes of Health (NIH). 2015 [cited 2021 Oct 8]. Available from: https://www.nih.gov/research-training/search-hiv-vaccine-gets-shot-arm

6.     https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-2020-HIV.pdf

Oleh: dr. Devina Ciayadi